Grimoire Entry

Perpustakaan Kota Coln

PERPUSTAKAAN KOTA COLN — Kamis, Pukul Dua Lewat Tiga Puluh Tujuh

Adalah suatu kebiasaan Niko untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari yang diharapkan, dan menghabiskan waktu sisanya dengan cara yang tidak akan dapat ia jelaskan kepada atasannya jika ditanya.

Pada hari Kamis itu, tugasnya adalah memeriksa Peraturan Penggunaan Ruang Kerja Bersama Versi 4.2 — sebuah dokumen yang, setelah dibaca dengan saksama, tidak mengandung hal yang lebih mengejutkan daripada dokumen-dokumen serupa yang telah ia baca sebelumnya. Ia menyelesaikannya pukul satu lewat dua puluh, membuat catatan yang diperlukan, dan mendapati dirinya duduk di depan meja perpustakaan dengan perasaan seorang pria yang telah memenuhi kewajibannya jauh sebelum kewajibannya memintanya untuk dipenuhi.

Kembali ke kantor berarti laporan. Ia memilih untuk tidak kembali ke kantor.


Perpustakaan Kota Coln, yang berdiri di sudut Jalan Mentari Tengah sejak tiga puluh dua tahun lalu menurut prasasti di pintu masuknya, adalah bangunan yang menawarkan satu hal yang jarang ditemukan di tengah kota: keheningan tanpa kewajiban. Tidak ada yang mengharapkan seseorang untuk produktif di sini. Tidak ada yang bertanya mengapa seseorang masih duduk pada pukul tiga sore.

Niko berjalan melewati lantai utama — rak-rak yang ia kenal, meja baca yang ia lewati tanpa berhenti — dan naik ke lantai dua.

Lantai dua adalah sesuatu yang berbeda sama sekali.

Cahayanya lebih redup, udara di sana lebih dingin dari yang semestinya untuk ruangan tanpa pendingin udara tambahan, dan buku-buku yang menghuni rak-raknya tampak seperti benda-benda yang telah lama berdamai dengan kenyataan bahwa tidak ada yang akan membaca mereka. Beberapa sampulnya sudah tak terbaca. Beberapa tampak lebih tua dari perpustakaan itu sendiri.

Niko tidak mencari apa pun. Itu, ia temukan, adalah kondisi terbaik untuk berjalan.


Tabrakan itu terjadi di ujung lorong ketiga dari kiri.

Seorang pegawai — Rani, demikian tertulis di name tag-nya, dengan ekspresi orang yang telah melewati batas wajar kelelahan sejak pagi — menggotong tumpukan buku-buku tua setinggi dadanya ketika ia membelok ke sudut tanpa memperlambat langkah. Akibatnya, sebagaimana yang dapat diprediksi oleh siapa pun yang pernah mempelajari hukum dasar fisika, adalah bencana kecil yang sempurna.

Buku-buku itu jatuh ke lantai. Pegawai itu jatuh ke satu sisi. Niko, yang masih berdiri, membungkuk untuk membantu.

Sebagian besar buku yang tersebar di lantai itu tidak menarik perhatiannya — ensiklopedia tua, kumpulan prosiding konferensi yang tidak ada konferensinya lagi, atlas wilayah yang sudah berubah nama. Tangannya bergerak mengumpulkan satu per satu sampai berhenti pada sebuah buku kecil bersampul hitam yang terletak miring di bawah rak.

Ia mengangkatnya.

Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis. Sampulnya polos seperti batu, dan sudut-sudutnya aus — usia, bukan sekadar pemakaian. Beratnya terasa lebih ringan dari yang semestinya untuk ukurannya.

"Yang ini juga akan dibuang?" tanya Niko.

Rani melirik. "Iya, Mas, semuanya. Rak pojok itu sudah lama tidak aktif di katalog."

Niko membuka halaman pertama. Kosong.

Ia membuka halaman ketiga. Kosong pula. Beberapa halaman kemudian ia mendapati tulisan — atau sesuatu yang menyerupai tulisan — tapi simbol-simbol itu menolak untuk terbaca, bukan karena asing, melainkan karena sesuatu di dalam kepalanya menolak untuk memprosesnya, seperti mata yang dipaksa menatap titik buta.

Ia menutup buku itu.

"Boleh saya bawa?"

"Silakan. Daftarkan di register bawah dulu, Mas."

Register bawah tidak menemukan buku itu dalam tiga kali pencarian. Barcode di punggungnya tidak menghasilkan apa pun. Pencarian manual mengembalikan layar kosong.

"Mungkin donasi lama yang tidak sempat diinput," kata petugas register dengan tenang. "Kalau mau dibawa, boleh saja."


Niko tiba di kontrakannya ketika langit di luar sudah berwarna abu tua, dan hujan yang telah diancamkan prakiraan cuaca sejak pagi akhirnya mulai menepati janjinya. Ia menyalakan TV — bukan untuk ditonton, melainkan untuk mengisi keheningan dengan sesuatu yang tidak memerlukan responnya. Ia makan mie instan. Ia duduk.

Kemudian ia mengambil buku itu lagi.

Halaman pertama.

Terdapat sebuah gambar di sana yang, ia yakin sepenuhnya, tidak ada ketika ia membuka buku itu di perpustakaan dua jam yang lalu.

Gambar itu sederhana — satu mata, bulat dan terbuka, digambar dengan garis-garis yang terlalu tepat untuk disebut sketsa, terlalu hidup untuk disebut ilustrasi. Ia tidak bergerak. Ia hanya ada di sana, di tengah halaman kosong, dengan cara yang membuat Niko menyadari bahwa ia yang dilihat di sini — bukan sebaliknya.

Ia menatap gambar itu selama beberapa detik.

Kemudian ia meletakkan buku itu kembali ke meja, menghabiskan suapan terakhir mie instannya, dan mengucapkan satu kata dengan nada yang sama persis seperti yang ia gunakan ketika mendapati stapler kantor kehabisan isi:

"Well."

Di luar, hujan membasahi aspal Coln. Di TV, seorang presenter membicarakan sesuatu yang tidak penting. Dan di atas meja kontrakan yang berantakan itu, sebuah mata di dalam buku tipis bersampul hitam terus menatap langit-langit — dengan kesabaran sesuatu yang telah menunggu jauh lebih lama dari yang bisa dibayangkan siapapun, dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi.

← Back to Blog